Tips Singkat Untuk Menentukan Volume Lot Untuk Meminimalisir Resiko Loss

Date : 2018-07-16

Bagi trader yang baru memulai berkecipung dalam bisnis forex trading, tentunya masih banyak belum paham tentang bagaimana menghitung lot? Bagaimana menghitung nilai 1 point? Dan banyak pertanyaan lainnya yang menurut kebanyakan trader pemula yang menemukan istilah asing”. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi trader yang masih pemula untuk banyak meluangkan waktu untuk mempelajari istlah-istilah asing tersebut sambil memahami cara kerja bisnis trading forex ini, sebelum Anda benar-benar fokus mendulang profit di dunia bisnis trading forex.

Misalnya, katakanlah trader punya account $1,000, lalu trader melakukan trading 1 lot otomatis 1 pip-nya seharga $10. Jika trading berakhir loss 50 pip saya rugi sebesar $10 x 50 = $500. Dari persentase tersebut, besarnya loss adalah 50% dari modal. Apa yang terjadi ketika satu sesi trading saja trader sudah langsung rugi 50% dari modal? Tentunya, hal terburuk akan terjadi pada diri trader sendiri, misalnya drop dan mentalnya jatuh. Karena untuk membalikkan kerugian yang telah terjadi ini adalah kerja yang sangat berat. Apalagi umumnya trader yang sedang dalam kondisi drop mental tradingnya akan menyebabkan trader sulit fokus dalam menganalisa pada sesi selanjutnya.

Dari ilustrasi di atas, akan muncul pertanyaan serius bagi trader, yakni berapa persentase risk yang harus digunakan? Banyak analis profesional yang menyarankan dalam 1 kali trading maksimal risk tidak lebih dari 5% dari modal. Mari kita hitung lagi, seandainya trader punya account $1,000, maksimal loss 5% x 1,000 = $50. Jadi untuk sekali trading maksimal loss adalah $50, sedangkan posisi stop loss nya adalah 50 pips. Nilai 1 pip adalah $1. Lot yang digunakan nilainya adalah 0.1 lot. Pada contoh sebelumnya 1 kali trade loss nya $500, disini loss nya hanya $50. Dari ilustrasi tersebut, apa yang bisa kita perbandingkan?

Ketika trader melakukan trading namun kemudian loss $50, maka account tersebut masih ada $950. Secara psikologis ini tidak akan terlalu menjatuhkan mental sang trader jika dibangingkan ketika trader mengalami loss sebesar $500, yang menyebabkan accountnya hanya tinggal $500. Untuk mengembalikan modal tersebut, trader harus profit sebesar 100% dari modal sekarang. Coba Anda bandingkan sendiri, pada contoh ke 2 ini yang hanya mengalami loss $50. Untuk mengembalikan kita hanya perlu profit 5% sedikit dari modal kita sekarang ($950), tentu ini lebih ringan dan secara psikologis tidak terlalu berat bagi trader.

Mengenai pembahasan tentang risk (resiko) ini, ada pertanyaan serius yang tidak bisa diabaikan, yakni banyak mentor trading yang menyarakan kepada trader yang masih pemula untuk hanya trading dengan mengambil resiko yang kecil saja. Karena jika ia trading dengan resiko yang rendah, pendapatan (profit) mereka per sesi tradingpun sangat kecil. Pertanyaan semacam ini boleh dikembaliken pada diri trader itu sendiri, misalnya berapa yang ingin mereka dapatkan setiap harinya? Katakanlah ia ingin profit sekitar $100 per hari.

Bisakah trader mendapatkan profit sebesar $100 perhari? Mari kita kaji kembali ilustrasi sederhana berikut. Dengan berpedoman pada ilustrasi yang sebelumnya, ketika Anda ingin profit $100 per hari, maka yang harus Anda lakukan bukan memperbesar risk, ataupun memperbesar volume trading Anda. Tapi yang harus Anda perbesar adalah modal Anda. Berapa modal yang sebaiknya digunakan untuk mendapatkan $100 per hari? Jawabannya $2,000. Jadi Anda siapkan $2,000. Begitulah cara penerapan trading dengan menggunakan langkah risk management yang tepat dan bijak sana.

Apabila Anda menggunakan uang $100 ataupun $200 dengan harapan bisa mendapatkan profit $100 per hari, artinya Anda akan melakukan trading dengan risk yang sangat besar. Mungkin satu atau dua kali bisa Anda lakukan, dan bisa profit satu atau dua kali, tapi cara trading yang Anda lakukan bukanlah trading yang menginginkan profit konsisten. Kemungkinan terburuknya adalah suatu saat pasti Anda akan mengalami loss dan account Anda bisa habis. Selain itu, trading semacam itu tidak tenang apabila menjalankan trading dengan risk yang sangat besar. Trading yang tidak tenang berakibat analisa kita juga tidak fokus, konsentrasi kita tidak fokus, bahkan proses analisapun justru sering salah.

Masalah lain yang sering dialami oleh trader yang serakan dalam mengharapkan profit yang besar adalah dengan melakukan trading dengan beberapa transaksi secara bersamaan. Ketika trading menggunakan 5% ini, Anda juga trading pada sesi yang lain secara bersamaan, bisa 2 atau 3 trading sekaligus. Jika hal ini dilakukan, tentunya risk Anda tidak 5% lagi, totalnya menjadi 15%. Ini juga salah satu penggunaan risk yang salah. Jika Anda ingin trading 2 atau lebih transaksi secara bersamaan, risk totalnya juga tidak lebih dari 5%.

Perbedaan Trader Pemula & Profesional

Untuk memahami lebih dalam tentang cara meminimalisir resiko loss dalam trading forex, maka trader bisa melihat beberapa perbedaan antara trader pemula dan trader profesional. Perbedaan keduanya sangat banyak, tapi yang utama bahwa new trader ini ketika mereka masuk ke forex yang mereka pikirkan adalah berapa banyak uang yang bisa mereka hasilkan dengan trading forex itu. Sedangkan trader propesional yang mereka pikirkan adalah berapa banyak kerugian yang bisa mereka alami. Dari sini bisa kita garis bawahi bahwa trader baru berpikir tentang profit dan profit saja, berapa besar, berapa banyak profit yang mungkin bisa mereka hasilkan? Sedangkan bagi trader yang sudah profesional akan lebih mengedepakkan tentang pentingnya risk, maupun keamanan dari account trading mereka. Untuk lebih detailnya, Anda bisa lanjutkan untuk membaca tulisan ini.

Para trader propesional sangat menyadari bahwa tidak selamanya analisis mereka itu selamanya akan tepat, karena tidak selamanya harga bergerak sesuai dengan keinginan, karena ada kalanya harga akan berlawanan, ataupun mereka salah dalam menentukan posisi trading. Karena mereka tahu ada kalanya mengalami loss, namun mereka siap untuk menerima loss tersebut. Kemudian memanage loss ini secara tepat, sehingga account trading mereka tetap aman, tidak sampai habis hanya karena mengalami loss.

Mari perhatikan contoh kasusnya, bahwa trader kebanyakan “tidak siap” untuk menerima sebuah loss, karena ia mengalami kerugian dana. Misalnya, trading ke 1 berhasil profit $100, trading ke 2 berhasil profit $90, trading ke 3 berhasil profit $50, trading ke 4 berhasil profit $60, namun ditrading ke 5 ini ternyata dia salah menganalisa, pergerakan harga berlawanan dengan posisinya, otomatis floating negative. Ketika floating negative semakin besar, trader ini tidak siap untuk menerima sebuah loss tersebut, dan akhirnya posisi ini dibiarkan dan terus berharap harga berbalik sesuai dengan posisi tradingnya, namun akhirnya, harga justru semakin jauh, floatingnya semakin besar, dan terpaksa melakukan close karena account tersebut semakin habis, dan marginnya sudah tidak mencukupi lagi, dan akhirnya pada trading yang ke 5 ini berakhir dengan kondisi loss -$900.

Pada kasus tersebut, trader mengalami kerugian yang sangat besar. Kerugian tersebut justru memakan profit-profit yang sudah trader dapatkan sebelumnya. Kadang kala bahkan sampai menghabiskan account yang dimiliki. Inilah salah satu contoh penerapan dari risk management yang tidak tepat. Contoh seperti ini sering terjadi pada sebagian besar trader forex, terutama bagi trader pemula. Mereka belum siap untuk menerima sebuah loss dan mereka juga belum mampu memanage resiko trading secara tepat. Dari contoh kasus tadi, bisa kita garis bawahi bahwa kemampuan memanage resiko dengan baik dalam bisnis trading forex merupakan kunci sukses jangka panjang.

Bagaimana cara membatasi kerugian ini agar tidak semakin besar? Tentunya kita bisa menggunakan stop loss. Stop loss ini berfungsi untuk memotong kerugian kita agar tidak semakin membesar. Ada beberapa trader yang menanyakan bahwa ketika mereka menggunakan stop loss, sering kali stop loss ini duluan terkena dari pada taking profitnya. Katakanlah mereka melakukan buy dengan taking profit 30 point dan stop loss pada 30 point juga. Ketika trading dilakukan justru stop loss ini yang terkena duluan dari pada take profitnya. Kasus seperti ini mungkin juga akan alami oleh trader lainnya, misalnya ketika trading menggunakan stop loss justru lebih sering loss nya dari pada profitnya.

Jawabannya sederhana saja, bahwa ketika trader ini melakukan buy, justru kemudian stop loss nya kena duluan. Lalu mengapa pada waktu itu tidak melakukan sell saja. Jika sell yang dilakukan tentunya taking profitnya akan terkena lebih dahulu. Jadi bisa disimpulkan bahwa bukan karna kita menggunakan stop loss kemudian kita menjadi sering loss, namun analisa trading kita ini yang belum tepat dan belum bisa memprediksi secara tepat pergerakan harga yang akan datang. Jadi intinya bukan karena kita menggunakan stop loss tersebut.

Ketika kita masuk ke forex trading atau terjun di bisnis forex ini Anda harus menyadari loss adalah bagian dari trading. Tidak akan selamanya kita akan mendapatkan profit, ada kalanya terjadi kesalahan dalam prediksi, kemudian harga bergerak berlawanan dengan keinginan, jika saat itu terjadi, trader harus siap dengan loss ini.

Selanjutnya, katakanlah Anda punya analisa tentang harga bahwa harga ini akan naik, maka Anda akan melakukan buy. Seiring dengan waktu ternyata analisa semacam ini salah, harga jadi bergerak sebaliknya, hargapun semakin turun, otomatis trader akan dalam posisi floating negatif. Karena trader tidak siap menerima loss, maka trader tetap biarkan saja posisi ini dengan harapan bahwa harga akan segera berbalik naik sehingga posisi yang tadi loss berubah menjadi positif. Lalu apa yang terjadi? Harga justru turun semakin dalam, posisi trading di sini sudah semakin besar loss nya, maka jadi akan semakin berat untuk menutup transaksi tersebut.

Sudah terbayang profit-profit yang susah-payah dikumpulkan, akan habis apabila posisi tersebut diclosing, maka posisi tersebut tetap dibiarkan saja dengan terus berharap dan berdoa agar harga ini berbalik naik ke atas sehingga trader tidak jatuh loss. Namun kenyataan yang terjadi adalah harga ternyata semakin dalam turunnya lalu akhirnya account tersebut kena margin call. Itulah realita yang sering terjadi di trader-trader baru (pemula). Mereka tidak menyadari bahwa loss adalah sebagian dari trading, sehingga mereka tidak siap untuk menerima sebuah loss atau pun kerugian.

Itulah uraian singkat tentang tips singkat untuk menentukan volume lot untuk meminimalisir resiko loss. Sebagai trader yang baru maupun profesional, Anda mesti wajib memahami dan mempelajari langkah-langkah trading secara sehat, untuk meminimalisir resiko kerugian dana pada account trading Anda.